Rhara blog's

Sabtu, 20 Desember 2008

Mafka ibu "Bidadari kecilku"

Malam belum seberapa tua, mata anak

sulungku belum juga bisa dipejamkan. Beberapa buku

telah habis kubacakan hingga aku merasa semakin lelah.

"Kamu tidur donk Dila, Ibu capek nih baca buku terus,

kamunya nggak tidur-tidur," pintaku .

Ditatapnya dalam wajahku, lalu kedua tangannya yang

lembut membelai pipiku. Dan, oh Subhanallah,

kehangatan terasa merasuki tubuhku ketika tanpa

berkata-kata diciumnya kedua pipiku. Tak lama, ia

minta diantarkan pipis dan gosok gigi. Ia tertidur

kemudian, sebelumnya diucapkannya salam dan maafnya

untukku. "Maafin kakak ya Bu. Selamat tidur," ujarnya

lembut.

Kebiasaan itulah yang berlaku dikeluarga kami sebelum

tidur. Aku menghela nafas panjang sambil kuperhatikan

si sulung yang kini telah beranjak sembilan tahun. Itu

artinya telah sepuluh tahun usia pernikahan kami.

Dentang waktu didinding telah beranjak menuju tengah

malam. Setengah duabelas lewat lima ketika terdengar

dua ketukan di pintu. Itu ciri khas suamiku. Seperti

katanya barusan ditelepon, bahwa ia pulang terlambat

karena ada urusan penting yang tak bisa ditunda besok.

Suamiku terkasih sudah dimuka pintu. Cepat kubukakan

pintu setelah

sebelumnya menjawab salam. "Anak-anak sudah tidur?"

Pertanyaan itu yang terlontar setelah ia bersih-bersih

dan menghirup air hangat yang aku suguhkan. "Sudah,"

jawabku singkat.

"Kamu capek sekali kelihatannya. Dila baik-baik saja?"

Aku menggangguk. "Aku memang capek. Tapi aku bahagia

sekali, bahkan aku pingin seperti ini seterusnya."

Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu menatapku

dengan sedikit bingung. "Akan selalu ada do'a untukmu,

karena keikhlasanmu mengurus anak-anak dan suami

tentunya. Dan aku akan minta pada Allah untuk

memberimu pahala yang banyak," hiburnya kemudian.

Aku tahu betapa ia penasaran ingin tahu apa yang

hendak aku katakan, tapi ia tak mau memaksaku untuk

bercerita. Tak sanggup aku menahan gejolak perasaan

dalam dada yang sepertinya hendak meledak. Kurangkul

erat tubuhnya. "Maafkan aku mas," bisikku dalam hati.

Pagi ini udara begitu cerah. Dila, sulungku yang

semalam tidur paling akhir menjadi anak yang lebih

dulu bangun pagi. Bahkan ia membangunkan kami untuk

sholat subuh bersama. Mandi pagipun tanpa dikomandoi

lagi. Dibantunya sang adik, Helmi, memakai celana.

Dila memang telah trampil membantuku mengurus adiknya.

Tak hanya itu, menyapu halamanpun ia lakukan. Tapi itu

dengan catatan, kalau ia sedang benar-benar ingin

melakukannya. Kalau "angot" nya datang, wah, wah, wah.

Inilah yang ingin aku ceritakan. Dila kerap marah

berlebihan tanpa sebab yang jelas, sampai membanting

benda-benda didekatnya, menggulingkan badan dilantai

dan memaki dengan kata-kata kotor.

Memang aku pernah melakukan suatu kesalahan saat aku

kesal menghadapi ulahnya. Saking tak tertahannya

kesalku, aku membanting pintu dan itu dilihatnya.

Wajar saja kalau akhirnya Dila meniru perbuatanku itu.

Penuh rasa sesal saat itu, aku berjanji untuk tidak

melakukan hal itu kembali. Kuberikan penjelasan pada

Dila bahwa aku salah dan hal itu tak boleh ia lakukan.

Entah ia mengerti atau tidak.

Hari itu Dila bangun agak siang karena kebetulan hari

Minggu, pakaiannya basah kena ompol. Padahal ia tak

biasanya begitu. Segera saja kusuruhnya mandi. Tapi

Dila menolak, dengan alasan mau minum susu. "Boleh,

tapi setelah minum susu , kakak segera mandi ya karena

baju kakak basah kena ompol" Dila menyetujui

perjanjian itu. Tapi belum lagi lima menit setelah

habis susu segelas, ia berhambur keluar karena

didengarnya teman-temannya sedang main. Mandipun urung

dikerjakan. Aku masih mentolelir. Tapi tak lama

berselang "Kak Dila. mandi dulu," aku setengah

berteriak memanggilnya karena ia sudah berada diantara

kerumunan anak yang sedang main lompat tali. "Sebentar

lagi Bu. Kakak mau lihat Nisa dulu," begitu jawabnya.

Aku masih belum bereaksi. Kutinggal ia sebentar karena

Helmi merengek minta susu. Setelah membuatkan susu

untuknya, aku keluar rumah lagi. Kali ini menghampiri

Dila. "Waktumu sudah habis, sekarang kamu mandi",

bisikku pelan ditelinganya. Dila bereaksi menamparku

keras, "Nanti dulu!" aku tersentak, mendadak emosiku

membludak. Aku balas menampar Dila hingga meninggalkan

bekas merah di pipi kanannya. Tanpa berkata-kata lagi,

kuseret tangannya sekuat tenaga. Dila terus meronta.

Kakiku digigitnya. Aku dengan balas mencubit. Layaknya

sebuah pertarungan besar kami saling memukul dan

meninggikan suara. Setibanya dikamar mandi Dila

kuguyur berulang-ulang, kugosok badanya dengan keras,

kuberi sabun dan kuguyur lagi hingga ia tampak

gelagapan. Aku benar benar kalap. Selang beberapa

menit kemudian, kukurung Dila dikamar mandi dalam

keadaan masih tidak berpakaian. Ia menggedor-gedor

pintu minta dibukakan. Berulang kali ia memaki dan

mengatakan akan mengadukan kepada ayah.

Tak berapa lama kemudian suara Dila melemah, hanya

terdengar isak tangisnya. Aku membukakan pintu dengan

mengomel. "Makanya, kalau disuruh mandi jangan

menolak, Ibu sampe capek, dari tadi kamu menolak mandi

terus. Awas ya kalau seperti ini lagi. Ibu akan kunci

kamu lebih lama lagi. Paham!", entah ia mengerti atau

tidak. Dila hanya menangis meski tidak lagi meraung.

Setelah rapih berpakaian, menyisir rambut dan makan.

Dila seolah melupakan kejadian itu. Iapun asyik

kembali main dengan teman-temannya. Peristiwa itu

tidak hanya satu dua kali terjadi. Tidak hanya pada

saya ibunya tapi juga pada ayahnya. Tapi, cara suamiku

memperlakukan Dila sangat berbeda. Barangkali memang

dasarnya aku yang tidak sabar menghadapi anak rewel.

Tiap kali itu terjadi, cara itulah yang aku lakukan

untuk mengatasinya. Bahkan mungkin ada yang lebih

keras lagi dari itu.

Tapi apa yang dilakukan Dila pada saya, Subhanallah,

Dila tak pernah menceritakan perlakuanku terhadapnya

kepada siapapun. Seolah ia pendam sendiri dan tak

ingin diketahui orang lain. Akupun tak pernah

menceritakan kepada suami, khawatir kalau ia marah.

Padahal Dila itu anak kandungku, anak yang keluar dari

rahimku sendiri. Aku kadang membencinya, tidak

memperlakukan dia layaknya aku memperlakukan Helmi

adiknya. Dila anak yang cerdas. Selalu ceria, gemar

menghibur teman-temannya dengan membacakan mereka buku

yang tersedia dirumah. Bahkan teman-temannya merasa

kehilangan ketika Dila menginap di rumah neneknya

diluar kota, yang cuma dua malam.

Belaian lembut tangan suamiku menyadarkan aku. Kulepas

pelukanku perlahan. Tak sadar air mata menyelinap

keluar membasahi pipi. "Sudahlah, malam semakin larut.

Ayo kita tidur," ajaknya lembut. Aku berusaha

menenangkan gemuruh dibatinku. Astaghfirullah, aku

beristighfar berulang kali. "Aku mau tidur dekat Dila

ya?" pintaku. Lagi-lagi kearifan suamiku membuatku

semakin merasa bersalah. Kuhampiri Dila yang tampak

pulas memeluk guling

kesayangannya. Siswi kelas tiga SD itu begitu baik

hati. Aku malu menjadi ibunya yang kerap memukul,

berkata-kata dengan suara keras dan...oh Dila maafkan

Ibu.

Disisi Dila bidadari kecilku, aku bersujud di tengah

malam. " Ya Allah, melalui Dila, Engkau didik hambamu

ini untuk menjadi ibu yang baik. Aku bermohon ampunan

kepada-Mu atas apa yang telah kulakukan pada

keluargaku, pada Dila. Beri hamba kesempatan

memperbaiki kesalahan dan ingatkan hamba untuk tidak

mengulanginya lagi. Dila, maafkan Ibu nak, kamu banyak

memberi pelajaran buat Ibu."

Sebuah renungan untuk para ibu (termasuk saya

didalamnya). Semoga kita semakin menyayangi anak-anak

dan memperlakukan mereka dengan baik. Sebagaimana

diingatkan dalam sebuah hadits Nabi SAW agar manusia

menyayangi anak-anaknya. Ketika Aqra' bin Habis At

Tamimi mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh anak tapi

tak pernah mencium salah seorang diantara mereka,

Rasululloh SAW bersabda "barangsiapa yang tidak

menyayangi maka dia tidak disayangi" (HR. Bukhari dan

Tirmizi)


referensi : cerpen islami


0 komentar:

Template by : auraipank.blogspot.com